RENUNGAN MALAM PASKAH YOHANES 3 : 16: KEMATIAN YESUS DAN KEBANGKITAN SEBAGAI WUJUD KEPEDULIAN ALLAH

Terima kasih buat Pemuda dan PAR yang telah membawa kita untuk berefleksi tentang peristiwa penebusan dosa manusia. Dari drama yang di mainkan oleh pemuda ini, kita bisa mendapatkan gambaran tentang kejadian pada saat malam menjelang penyaliban Yesus hingga kebangkitan-Nya. Pemuda dan PAR telah menggambarkan dengan baik peristiwa Yesus, namun ada satu bagian yang terlupakan yakni kejadian pada malam ini sekitar 1979 tahun yang lalu dari sekarang. Malam seperti ini adalah malam yang paling tidak berpengharapan. Malam Hopeless. Malam seperti ini, murid-murid Yesus berada pada posisi ketidak percayaan kepada Yesus. Benak mereka dipenuhi dengan berbagai pikiran yang berkecamuk: "Baru kemarin kita dipuji dan dihormati, karena banyak mujisat yang dilakukan oleh guru kita.Baru kemarin kita masih dielu-elukan ketika masuk ke Yerusalem. Kemarin ada banyak mujisat yang terjadi, dan adalah mustahil, kalau Yesus tidak bisa selamat dari penyaliban itu.. Tapi kenyataan lain. Kini tubuh kakunya telah berada di kuburan Yusuf Arimatea. Kemarin Yesus menyatakan kepada kita tentang kerajaan sorga, yang membebaskan mereka dari penguasa romawi, sebagaimana anggapan beberapa murid bahwa Yesus merupakan kelompok Zelotis yang bisa menjadikan mereka bangsa yang merdeka sebagaimana Ia janjikan yakni kerajaan sorga. Tapi perjuangan berakhir di atas kayu salib. Malam hopeless. Tidak berpengharapan. Mereka juga masih ingat ketika Yesus mengatakan bahwa Yesus dan Bapa adalah satu, tetapi di kayu salib malah Yesus mengatakan elohim-elohim lhama sabahktani. Alahku, Alahku mengapa Engkau meninggalkan Aku? Yah malam ini adalah sungguh malam tak berpengharapan. Penebusan telah dilakukan, namun belum memiliki makna apa-apa. Malam ini adalah malam di mana para setan sementara tertawa kemenangan. Paling tidak ini gambaran tentang malam yang sedang kita lalui ini. Kembali pada peristiwa penyaliban… Sepintas mungkin kita bertanya kenapa Yesus harus mati di kayu salib, kenapa penebusan-Nya harus dilalui dengan cara yang hina. Tulisan di atas kayu salib yakni Yesus Nazarenus Rex Yudaerum atau yang kita kenal singkatannya dengan kata INRI menggambarkan penghinaan yang luar biasa. YESUS DARI NAZARET RAJA YAHUDI. Tulisan ini memiliki makna politis bahwa Yesus seorang pemuda dari udik yang bernama Nazaret mau menjadi raja Yahudi. Untuk kalangan orang Yahudi. Ada 2 tempat yang paling tidak memiliki pengaruh besar untuk menjadi pemimpin yakni Betlehem sebagai kota raja Daud, dan Yerusalem sebagai Kota Allah. Dan seharusnya raja Yahudi yang baru lahir dari dua kota itu dan bukan dari sebuah kampung. Kalau mungkin kejadian itu pada sekarang ini, bahasa yang identic dengan tulisan INRI adalah Yesus orang dari kampung tapi mengaku presiden, kacian de luh… Yesus juga di hina dengan diberi mahkota sebagai lambang kekuasaan seorang raja, ia diberi jubah ungu sebagai tanda kebesaran seorang raja, namun mahkota-Nya adalah duri, jubah ungu-Nya juga kemudian dikoyakkan. Penghinaan mahkota ini melambangkan seorang yang berambisi menjadi raja namun gagal. Dan akhirnya salib menjadi taruhannya. Itulah ungkapan yang mau ditujukan oleh pasukan Romawi dan para penentang Yesus. Kudeta yang gagal. Kacian de lu.. Salib yang dilalui Yesus merupakan hukuman bagi para subversif atau juga para penjahat politik. Dan Yesus Tuhan kita digantung disana sebagai penjahat politik. Itulah harga dari penebusan dosa umat manusia. Tidak melalui mati dengan cara biasa saja, tetapi melalui penderitaan, melalui penyiksaan, melalui pengadilan, melalui penghinaan dan digantung secara mengenaskan. Dan untuk itu nabi Yesaya telah menubuatkan tentang Yesus dalam Yesaya 53:3: Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; Ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap Dia dan bagi kitapun Dia tidak masuk hitungan. Itulah makna penebusan dosa tersebut. Suatu hukuman yang terlampau berat bagi seorang Yesus, sehingga malam sebelum Ia disalibkan juga Yesus bergumul dengan kuat terhadap pilihan: mati dengan cara tidak terhormat demi menebus dosa manusia, ataukah membiarkan cawan itu lalu darinya yang artinya proses penyelamatan tidak terjadi. Injil Lukas menggambarkan dengan jelas pergumulan Yesus dengan mengatakan bahwa peluh-Nya seperti titik-titik darah. Begitu hebat pergumulan Yesus, sehingga hal ini juga digambarkan dengan baik oleh Mell Gibson dalam film hasrat/ pergumulan dari Yesus. (the Passion of the Christ). Pergumulan yang begitu hebat berakhir dengan keputusan Yesus yang bulat bulat: Biarlah kehendak-Mu lah yang jadi. Dan akhirnya mati dengan cara terhina Yesus jalani. Sungguh luar biasa Tuhan kita ini. Kita yang tidak berharga ini ditebus dengan harga yang mahal. Tidak saja melalui kematian, tetapi mati sebagai orang yang terhina. Mati sebagai seorang raja kerajaan sorga yang gagal, raja orang Yahudi yang gagal. Lantas apa yang membuat Yesus Kristus mau mati secara hina bagi kita? Jawabannya adalah karena Allah mencintai Kita, karena Allah Peduli kepada Kita. Hal ini diungkapkan secara gambling: “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan anak-Nya yang tunggal supaya setiap orang yang percaya pada-Nya tidak binasa malainkan beroleh hidup yang kekal. Itulah kuncinya. KASIH ALLAH YANG BEGITU BESAR. Karena kasih-Nya yang begitu besar maka Allah peduli terhadap kita. Ia sangat sangat sangat peduli pada kita. Ia selalu mendengar setiap seruan kita, untuk itu pilihannya adalah mengaruniakan anak-Nya untuk mati dan dihina demi kita yang telah berdosa dan terhina ini. Kematian Yesus untuk menebus dosa kita dengan cara disiksa dan dihina hanya semata untuk menggantikan kita yang telah menjadi orang terhina akibat dosa dan yang seharusnya dihukum. Ini semua karena Ia mencintai Kita. Ia Peduli kepada Kita. Bagaimana dengan Kita? Sebagai orang Kristen kita peduli kepada orang lain, bukan karena tuntutan dari Allah, tetapi sebagai wujud atas Allah yang telah lebih dahulu peduli kepada kita. Allah tidak memasang syarat kepada kita atas penebusan Yesus kristus bagi kita, namun kita wajib mensyukurinya dengan turut peduli kepada Allah dan juga sesama dan lingkungan sekitar kita. Tapi dimanakah kepedulian kita sekarang? Masih adakah kepedulian di dalam diri kita? Suatu ketika Albert Einstein menjadi gundah gulana. Ia merasa bahwa dunia akan menjadi tempat yang paling tidak aman untuk didiami. Yang membuat Einstein resah bukan pada semakin banyak orang jahat, tetapi semakin banyak orang yang tidak peduli. Masalah pelestarian lingkungan, masalah peduli terhadap bencana, bahkan mungkin yang paling dekat, tidak peduli terhadap jerih payah pemuda untuk mensukseskan kegiatan paskah, atau tidak peduli lagi pada orang-orang tidak mampu. Bahkan di gereja sendiri, kita lihat gereja-gereja kaya begitu memperkaya diri dengan gedung-gedung mewah, saldo-saldo bank yang beratus juta bahkan milyar, malakukan wisata rohani ke Israel dan sebagainya, namun di sampingnya ada gereja yang hamper rubuh karena tidak ada anggaran untuk membangun, namun disampingnya ada fakir miskin yang tidak tahu esok makan apa. Dan gereja-gereja tersebut seakan-akan tidak peduli pada mereka. Semakin banyak orang yang mengaku Kristen yang tidak lagi mengikuti jalan Yesus yakni peduli kepada sesama. Kalau demikian, apa makna kematian Yesus yang akan mencapai penyempurnaan-Nya pada peristiwa kebangkitan yang sebentar lagi akan kita rayakan? Apa maknanya kalau kepedulian itu tidak lagi berada pada orang yang disebut Kristen? Bunda Teresa menyarankan agar setiap orang mulai mempedulikan orang-orang terdekatnya. (Iove begin by taking care of the closest ones-the ones at home) cinta dimulai dengan peduli kepada orang-orang terdekat di rumah. Mungkin bunda Teresa seorang suster yang mengabdi di daerah kumuh india yang bernama calcuta sadar bahwa kecenderungan seseorang untuk menjadi tidak peduli pada banyak hal justru berawal dari perasaan bahwa ia sudah peduli terhadap orang didekatnya, sehingga akhirnya membuat ia tidak peduli. Nampak sedikit berlawanan, bagaimana mungkin orang peduli malah membuat ia tidak peduli. Kisah yang saya baca dari majalah Lion air mungkin bisa menjelaskannya. Disebuah desa terpencil dekat sebuah sungai, hiduplah sebuah keluarga beranggotakan ayah, ibu dan 2 anak laki-laki yang telah dewasa. Untuk menopang hidupnya, sang ayah didampingi dua putranya menangkap ikan disungai setiap hari. Ikan hasil tangkapan itu sebagaian dimakan dan sisanya dijual. Namun tidak selalu mereka berhasil mendapatkan ikan. Kadang-kadang mereka berhasil mendapatkan satu ekor ikan, kadang dua atau lebih, bahkan ada juga tidak mendapat apa-apa. Sang ibu, setiap kali suami dan anaknya pulang dengan membawa ikan, langsung menyambut dengan gembira. Dibersihkannya ikan tersebut dan dimasak sesuai selera suami dan anaknya tersebut. Kemudian mereka menyantap ikan itu secara bersamaan. Sebelum acara makan dimulai, sang ibu selalu berkata : “Suamiku, anak-anakku, makanlah dahulu ikan ini. Pilihlah bagian yang kalian sukai. Untuk ibu, cukup sisakan kepalanya saja. Maka bergesalah ketiga orang itu menyantap ikan dengan lahap, saking lahapnya, terkadang kepala ikannya juga ludes dimakan oleh mereka bertiga, dan sang ibu tidak mendapat lauk apa-apa. Kejadian ini sering terjadi. Suatu ketika tibalah hari ulang tahun sang ibu, maka sang ayah dan anak berembuk untuk memberikan kado special bagi sang ibu. Setelah kado disiapkan , ketiga orang ini pergi menemui sang ibu: istriku demikian kata sang ayah. Di hari ulang tahun ini, kami telah menyiapkan kado istimewa untukmu. Segera putra sulung menyerahkan kado itu sambih berkata ini kado istimewa buat ibu. Dengan perasaan berdebar, sang ibu pun membuka kado tersebut. Satu persatu pembungkus kado ia lepaskan dan terkejutlah sang ibu ketika melihat isi kado itu. Kado itu berisi sebuah kepala ikan. Dengan penasaran sang ibu bertanya, mengapa di hari ulang tahun ibu, kalian memberi kado kepala ikan? Tanpa ragu-ragu, kedua putranya menjawab: karena kepala ikan adalah makanan kesukaan ibu. Lalu sang ayah menambahkan kami tahu karena kamu selalu meminta agar kami menyisakan kepala ikan setiap kali makan. Mendengar jawaban itu kedua mata ibupun berkaca. Hatinya kecewa yang sangat dalam. Tahukah kalian sesungguhnya ibu tidak menyukai kepala ikan. Ibu lebih senang makan daging ikan. Terkejut mendengar jawaban itu anak bungsupun bertanya, tapi mengapa ibu selalu meminta kami untuk menyisakan kepala ikan dan bukan dagingnya. Ibupun menjawab dengan terbata-bata, ibu tahu kalian juga sangat senang daging ikan. Dan agar kalian bisa makan daging ikan, ibu memilih untuk memakan kepalanya saja. Dari cerita ini, kita bisa menyimpulkan bahwa karena sang ayah dan anak berpikir bahwa mereka sudah tahun kesukaan sang ibu yaitu kepala ikan, maka mereka menjadi tidak tahu situasi yang sesungguhnya. Disini kontradiksinya. Mereka merasa sudah peduli pada ibunya dan akhirnya membuat mereka tidak peduli terhadap situasi sesungguhnya. Dalam banyak kasus hancurnya persahabatan banyak disebabkan oleh hal ini. Kita sudah merasa peduli kepada teman kita sehingga kita merasa cukup untuk hal itu, dan akhirnya membuat kita tidak peduli lagi padanya. Bila hal ini dibumbui dengan ego, maka akan semakin kompleks dan berakhir pada putusnya pertemanan. Dalam banyak kasus perceraian juga disebabkan karena peduli yang menajdi tidak peduli ini. Sering ada pernyataan bahwa karena saya telah peduli terhadap kamu, maka kamu harusnya peduli pada saya. Sementera pasangan kita merasakan hal yang sama yang akhirnya percekcokan yang terjadi. dalam kontek kepedulian ini, marilah kita merefleksikan kematian Yesus dan menyongsong kebangkitan-Nya dengan melihat bahwa Yesus benar peduli kepada kita dan ia tidak menuntut kita untuk peduli terhadap dia. Tapi sebagai orang yang ditebus. Sudah seharusnya kita peduli kepada Tuhan, kita sekalian, sesama bahkan lingkungan kita. Refleksi menjelang paskah ini memberikan gambaran pada kita bahwa Allah telah peduli kepada kita, lantas bagaimana dengan kita? Apakah kita telah peduli terhadap Tuhan, dunia dan sekeliling kita? Sebelum kita menjawabnya, pastikan lebih dahulu bahwa kita juga peduli kepada orang-orang terdekat kita, suami, istri dan anak-anak kita. Selamat menyongsong paskah. Kebangkitan Kristus memurnikan kita dari dosa dan membuat kita peduli pada keluarga, sesame, lingkungan dan Tuhan Kita Tuhan berkati (renungan Malam Menjelang paskah tahun 2012)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar